Mas Arka mengira hidupnya hanya sedang berada di fase “pencarian”. Tahun 2016, ia kuliah di Jogja kota yang ramai oleh diskusi, komunitas, dan orang-orang yang gemar membedah gagasan sampai ke akar. Di kepala Mas Arka, dunia terasa seperti papan catur yang bisa dijelaskan lewat logika. Ia pun memilih satu posisi: ateis, tak percaya Tuhan, tak…
TIAP JUMAT PON “ZINA” JADI SYARAT: DUIT BERSERAKAN DI BERANGKAS, TAPI NYAWA SELALU JADI TEBUSAN PESUGIHAN GUNUNG BOLO
Teh Tata mengira ia sudah melewati fase paling gelap ketika uang miliaran pertama kali “muncul” di hidupnya. Ia sempat merasa menang—rumah kebeli, mobil ada, pekerjaan lancar, dunia seolah bertekuk lutut. Tapi ada satu hal yang selalu mengejar dari belakang: perjanjian itu bukan hadiah, melainkan jadwal. Dan jadwalnya tidak bisa ditawar—setiap Jumat Pon, ia wajib naik…
MOTOR NMAX DAN RUMAH 500 JUTA JADI MAHAR SANTET GONDO MAYIT: KESAKSIAN PEDAGANG PASAR MELAWAN JIN
Teh Lia tidak pernah menyangka puncak rezeki justru jadi pintu paling dekat menuju jurang. Tahun 2018, ia sedang “panen” usaha konveksi yang ia bangun dari nol bersama partnernya, Idah. Dari rumah, mereka jualan baju tidur, duster, gamis, setelan rumahan—produk yang kelihatannya sederhana, tapi perputarannya gila karena dicari hampir setiap hari. Awalnya mereka hanya melayani reseller….
MOBIL LEXUS DUA, RUMAH MEWAH DI GANG: PESUGIHAN NYAI ULAR YANG MENGHABISI KELUARGA UJANG PELAN-PELAN
Teh Keke masih ingat jelas tahun 2015, saat seorang teman lama tiba-tiba datang ke rumahnya. Teman itu—sebut saja Ujang—adalah sosok yang dulu ia kenal sejak SD: anak kampung yang sering jadi bahan ejekan, tubuhnya dianggap “tidak standar”, dan hidupnya serba kekurangan. Waktu kecil, Ujang punya banyak julukan kejam dari teman-temannya, sampai-sampai ia tumbuh dengan luka…
RITUALNYA KATANYA GAMPANG: BAGI-BAGI 14 AMPLOP, DUIT 3,7 MILIAR “PASTI” WUJUD—TAPI YANG DITAGIH MALAH ANAK
Mas Iwan menutup wajahnya dengan masker, bukan karena ingin gaya, tapi karena ia menyimpan aib yang sampai hari ini masih menempel di hidupnya. Tahun 2016, ia terjerumus bukan karena hobi mistik, melainkan karena satu hal yang sering jadi pintu masuk: utang yang makin menggila, ditambah ambisi “cepat beres” tanpa jalan panjang. Awalnya, hidup Mas Iwan…